|
[Berita Damandiri] Dokter Kecil Sebagai Agen Perubahan
Dokter kecil akan menjadi agen perubahan untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, yang merupakan cara termudah dan termurah dalam menjaga kesehatan.
Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih saat peluncuran “Revitalisasi Dokter Kecil dan Kader Kesehatan untuk Indonesia Lebih Sehat” di Jakarta, mengatakan, saat ini diperlukan upaya promotif dan preventif menuju Indonesia Sehat. Ia menyebut, salah satu upayanya adalah melaksanakan edukasi bagaimana mempraktekan perilaku hidup bersih dan sehat kepada generasi muda. Menurut dia, dahulu pemerintah sudah memiliki sejumlah program untuk mewujudkan hidup bersih dan sehat, di antaranya melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dengan salah satu pesertanya adalah dokter kecil. Kegiatan ini ditetapkan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri, yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri, pada 3 September 1989. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009 menunjukkan jumlah anak berusia 0-20 tahun sebesar 81.914.525. Ini berarti potensi yang besar untuk memulai perilaku hidup bersih dan sehat.
Anak Harus Miliki Karakter
Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto saat membuka Gebyar Apresiasi Karakter Siswa Indonesia menyebut, Indonesia yang sumber daya alamnya melimpah ruah, tapi kualitas SDM-nya masih rendah sehingga tidak optimal mengelola sumber daya alamnya. Karena itu, anak-anak harus menjadi SDM yang kuat. Menurutnya, anak-anak harus memiliki karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan agama. Pelaksanaan pendidikan karakter, kata dia, diselenggarakan baik dalam kurikuler maupun ekstrakurikuler. Kegiatan kurikuler, katanya, yaitu pada pelajaran pendidikan agama, akhlak mulia, kepribadian, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Untuk kegiatan ekstrakurikuler, dilakukan melalui pelatihan, modeling, dan langsung terjun ke masyarakat untuk menunjukkan kepedulian.
Manfaat ASI Pada Satu Jam Setelah Kelahiran
Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia sekaligus dokter spesialis anak, Utami Roesli, mengatakan, kematian bayi baru lahir, yakni usia di bawah 28 hari, di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian air susu ibu (ASI) dalam satu jam pertama setelah lahir. Inisiasi menyusui dini (IMD) menurunkan angka kematian bayi neonatus hingga 22 persen. Hanya saja, di masyarakat masih terjadi kerancuan konsep IMD. Inisiasi menyusui dini dapat menurunkan angka kematian bayi baru lahir hingga 22 persen. Hanya saja, cara sederhana dan murah tersebut kurang diketahui masyarakat, bahkan di kalangan tenaga kesehatan. Terlebih lagi, di tengah serbuan berbagai susu formula.
Penderita Kanker Terus Bertambah
Adityawati G Parengkuan dari Yayasan Kanker Indonesia mengatakan, penderita kanker terus bertambah dan 85 persen penyebab kanker pada umumnya ialah faktor lingkungan dan 15 persen faktor genetika. Faktor risiko untuk kanker rahim, antara lain, adalah hubungan seksual usia muda (kurang dari 20 tahun), berganti- ganti pasangan seksual, sering menderita infeksi di daerah kelamin, dan melahirkan banyak anak. Faktor risiko lainnya, defisiensi vitamin A, C, dan E serta terpapar asap rokok. Pencegahan primer kanker serviks dapat dengan vaksin HPV tipe 16 dan 18. Pencegahan lain dengan menjaga perilaku seksual.
|