|
[''Parenting'' Sabtu, 09.00-11.00 WIB] Rokok dan narkoba adalah ‘racun’ yang paling dekat kehidupan remaja. Menurut kak Gretha dari Binus University, keduanya memiliki efek negative selain membutuhkan pendanaan besar, banyak sekali ancaman penyakit bisa datang, seperti kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Rokok tak hanya berdampak negatif pada pecandunya, melainkan pada orang-orang di sekelilingnya alias perokok pasif.
Karena rokok dan narkoba sifatnya sama menjadi candu, itu sebabnya kak Gretha mengatakan kalau merokok merupakan pintu gerbang dari konsumsi naarkoba. “Tak semua perokok adalah pecandu narkoba, namun rata-rata pecandu narkoba adalah perokok, demikian Gretha mengatakan.
Usia perokok saat ini mengalami pendinian, bukan lagi setelah mereka bekerja atau SMA, bahkan anak 7 tahunpun banyak yang telah mengenal rokok, ini yang menurut kak Gretha perlu diwaspadai. Orangtua hendaknya memantau secara jeli dengan siapa saja anak mereka bergaul.
Pola komunikasi layaknya teman perlu dilakukan. Orangtua tak perlu menjaga wibawa dengan menciptakan jarak terhadp anak. Demikian pula kesibukan yang luar biasa harus dikurangi demi memiliki waktu untuk share dan bercengkerama dengan anak, terutama yang beranjak remaja.
Merokok jika sudah terlalu banyak dikonsumsi akan mengganggu konsentrasi dan kinerja, karena pecandunya tak akan betah duduk berlama-lama dalam suatu meeting atau menyimak pelajaran sekolah misalnya, fikiran mereka terfokus pada keinginan untuk merokok. Untuk itu, menghentikan konsumsi merokok memang harus datang dari keinginan pribadi yang bersangkutan dan jika kasusnya sudah berat bisa meminta bantuan konseling dari psikolog. |