|
[''Parenting'' Sabtu, 09.00-11.00 WIB] Gampang- gampang susah menjadi orangtua tiri. Jika marah dibilang tak sayang, atau ‘mentang-mentang anak tiri’ boleh diperlakukan seenaknya. Psikolog kita Ho Wi Chi MSi dari Binus University mengatakan, secara psikologis calon orangtua tiri kadang terbebani dengan perasaan penolakan dari calon anak tirinya, ini yang menyebabkan ada semacam ‘jarak’, demikian pula yang dirasakan calon anak tirinya.
Hal-hal yang menyangkut pola pandang negative perlu diubah untuk mendapatkan suasana yanbg lebih kondusif dan terjadilah ikatan emosional yang baik. Dalam posisi menjadi ibu kandung, kepercayaan anak akan muncul secara alamiah dari anak-anaknya, namun calon orang tua tiri bisa melakukan pendekatan melalui beberapa trikseperti menyapa anak-anak dan menumbuhkan rasa percaya sehingga anak akan mau mulai dekat untuk ngobrol dan berdiskusi.
Jika anak-anak tidak pernah punya ibu, bisa jadi benar-benar pengalaman yang berbeda bagi perempuan yang adalah ibu tiri. Namun, jika anak-anak ibu biologis masih hidup dan orang tua sudah bercerai, itu bisa menjadi langkah sulit dalam pendekatan. Persiapkan mental anda dengan membantu kebutuhan mereka tanpa harapan imbalan apapun dari mereka kapanpun mereka meminta. Selalu memberi mereka ruang untuk bergerak sehingga anak tidak merasa dikekang.
Jika anak meragukan anda, itu hanya masalah waktu, dengan kesabaran dan pendekatan yang benar-benar tulus maka beragam kendala bisa diatasi, kuncinya adalah komunikasi. Sudah sepatutnya, berbagai resiko dan kemungkinan yang datang dihadapi, untuk bisa diterima kehadiran calon orang tua tiri ini dalam keluarga. Kepada para remajapun kak Wi berpesan agar memperhatikan juga keinginan calon orang tuanya, merekapun manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan namun tak harus dibesar-besarkan dan menganggap bahwa caolon orangtua tirinya hanya sayang kepada bapak/ibu mereka saja, naamun dapat menjadi bagian dari keluarga yang sebenarnya. |