|
[''D' Education Corner'' Selasa, 08.00-09.00 WIB] Sekolah Tinggi ilmu Kesehatan (STIKES) Mitra Ria Husada yang diketuai oleh DR. Srihartati P. Pandi MPH, baru saja memperingati Dies Natalis/ Hari Ulang tahunnya yang ke 5. Serangkaian kegiatan mulai dari seminar tentang gizi, seminar Kespro pada bulan Desember lalu disambung dengan donor darah dan presentasi/kuliah umum dari DR. Hasri Ainun Habibie SpA, pada 21 Januari 2010 dilakukan dan diikuti berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa Stikes, Lurah dan Camat setempat, para kepala sekolah setingkat SMP dan SMA, para tokoh masyarakat, anggota APPI, Pers dan undangan lain.
Stikes yang mempunyai Motto “Membantu Pemerintah dibidang Kesehatan”, berperan penting terhadap upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi yang masih relative tinggi di Indonesia. Demikian DR. Sri Hartati yang akrab disapa Bu Pandi mengatakan. Untuk itu Stikes yang berdiri sejak tahun 2004 ini membuka beberapa program studi seperti Kesmas untuk program S1, Kebinanan untuk program D3 dan Kebidanan D4 yang mempersiapkan calon pendidik untuk mengajar D3 kebidanan.
Menurut dr. Kusnidar Ahmad Wakil Ketua 1 Bidang Akademik, kebutuhan kita akan tenaga bidan masih sangat tinggi mengingat wilayah geografis Indonesia ada lokasi-lokasi yang cukup terpencil dan sulit dicapai sehingga kadang sulit mencari bidan desa disana.
Untuk itu Stikes sendiri berupaya menyiapkan tenaga bidan berkualitas dan menerjunkan para calon bidan ini praktek langsung dimasyarakat bekerjasama dengan Dinkes dan Bupati setempat. Lulusan Stikes inipun tak ada yang menganggur, mereka langsung terserap dilapangan kerja baik di pemerintahan ataupun bergabung dengan rumah sakit swasta. Kedepannya menurut bu Pandi, optimalisasi peran para bidan ini, akan menyentuh masyarakat melalui kegiatan Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya yang tengah dikembangkan oleh Yayasan Damandiri sebagai upaya penyehatan masyarakat dan pembinaan lingkungan.
Sementara itu, DR. Hasri Ainun Habibie mengatakan, beberapa hal perlu dilakukan mahasiswa dalam menyiapkan diri menjadi tenaga professional dibidang pelayanan kesehatan yaitu memperhatikan beberapa permasalahan , seperti masih tingginya angka kematian ibu dan anak di Indonesia, masalah kesetaraan gender yang masih perlu diperjuangkan dan masih tingginya angka kebutaan di Indonesia.
Kawasan Asia Tenggara menyumbang hampir sepertiga jumlah kematian ibu dan anak di Dunia, pertahun total kematian Ibu mencapai 170.000 sementara kematian bayi baru lahir mencapai 1.300.000 pertahun, dan India, Bangladesh, Indonesia, Nepal serta Myanmar menyumbang sampai 98% dari seluruh kematian ibu dan anak di kawasan Asia Selatan dan Tenggara.
Secara khusus di Indonesia , Ainun menegaskan, angka kematian Ibu mencapai 307/1000 kelahiran hidup. Artinya jika diasumsikan ada 5 juta kelahiran hidup tiap tahunnya maka ada 36 kematian ibu terjadi atau ada 3 kematian setiap 2 jam. Penyebab utama kematian ini adalah komplikasi pendarahan, eklamsi dan infeksi.
Tak kalah mengerikannya kematian anak, dimana Newborn Mortality 20/1000 kelahiran hidup, Infrant Mortality Rate 26/1000 kelahiran hidup; balita Mortality Rate 46/1000 kelahiran hidup dan kalau diasumsikan angka kelahiran di Indonesia 5 juta pertahun maka tiap harinya meninggal dunia 246 bayi berusia kurang dari 28 hari dan 430 balita. Bisa dikatakan setiap 6 menit satu bayi Indonesia meninggal dunia dan setiap 2 ½ menit meninggal satu balita.
Untuk itu strategi memberikan pelayanan terbaik agar meningkatnya kesehatan reproduksi wanita berdasarkan acuan target MDG’S pada tahun 2015 untuk menurunkan ¾ angka kematian ibu dilakukan dengan membatasi kehamilan, mencegah komplikasi persalinan dan menekan angka kematian wanita akibat komplikasi kehamilan/persalinan.
Disinilah menurut Ainun, Sarjana Kesehatan Masyarakat dan Bidan mempunyai peluang besar untuk berpartisipasi. Bidan selain mengedukasi masyarakat, secara langsung dapat juga mengimplementasikan strategi tersebut. Sementara itu beberapa hal yang merupakan upaya menurunkan kematian balita dan bayi, dengan melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama awal kehidupannya.
Menyangkut Gender, Ainun menyampaikan bahwa kendala memperjuangkan kesetaraan gender adalah masih kuatnya budaya patriarchal di Indonesia. Dan tiga strategi yang perlu dilakukan adalah, pertama, meningkatkan proporsi siswa perempuan dan lelaki pada tingkat pendidikan primer, sekunder dan tertier. Kedua, dengan mengikut sertakan perempuan pada pekerjaan-pekerjaan diluar sektor pertanian dan ketiga, dengan meningkatkan jumlah perempuan dalam parlemen.
Anggapan Superior yang masih cukup kental di masyarakat kita terhadap lelaki sesungguhnya tidak beralasan, karena melihat statistik di sekolah-sekolah sampai perguruan tinggi bahwa sepuluh ranking terbaik sebagian besar adalah perempuan. Demikian pula dibidang kesehatan dimana angka harapan hidup perempuan lebih panjang sehingga kesetaraan gender merupakan ‘kebenaran biologis’.
Terkait Produktivitas dan kondisi social masyarakat, mantan Ibu Negara tahun 2004 ini memaparkan bahwa mata merupakan indera yang penting dan punya pengaruh besar. Angka kebutaan di Indonesia masih tergolong tinggi di Asia Tenggara dan ketiga tertinggi di dunia (1,5% dari penduduk) mengalami kebutaan yang diakibatkan oleh katarak, dan kekeruhan kornea sebagai penyebab 60% terjadinya kebutaaan.
Sebenarnya hal ini bisa dicegah dengan penanganan medik yang memadai melalui operasi katarak dan pencangkokan. Namun kendalanya adalah tidak memadainya ketersediaan kornea donor untuk ditransplantasikan . Pasokan kornea di Indonesia sangat terbatas dan masih menggantungkan pada charity dari negara lain tanpa kepastian periode dan jumlah yang dikirim.
Untuk itu selaku ketua Perkumpulan Penyantun mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) Ainun mengharapkan kepada para sivitas akademika Stikes Mitra Ria Husada dapat berperan secara aktif dalam berbagai upaya pencegahan kebutaan maupun dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang mulia dan pentingnya menjadi pendonor kornea. |