|
[Berita Damandiri] Pusat Pelayanan Kesejahteraan Sosial Anak
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta penambahan jumlah petugas sehingga rasio perbandingan jumlah anak dengan petugas sosial di Pusat Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) Anak Bambu Apus, Jakarta Timur, diperkecil. Demikian dikatakan Kepala Negara saat melakukan kunjungan ke PPKS Anak Bambu Apus. PPKS Anak merupakan unit pelayanan teknis yang menangani permasalahan kesejahteraan sosial anak yang berada langsung di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial. Menurut Presiden, mestinya rasionya harus lebih baik lagi. Syukur kalau bisa 1 banding 7 atau 1 banding 8. Kalau 1 banding 11 atau 1 banding 12, sebut Presiden, masih repot. Pada kesempatan tersebut, Kepala Negara meminta Menteri Sosial Salim Segaf untuk memikirkan upaya penambahan petugas sosial yang bekerja di PPKS Anak tersebut agar kinerjanya dapat lebih efektif. Sementara itu menurut keterangan Direktur Pelayanan Sosial Anak Kementerian Sosial, Harry Hikmat, jumlah penghuni PPKS Anak Bambu Apus 393 anak dengan perincian 120 perempuan dan 268 laki-laki. Sementara jumlah petugas hanya 28 orang.
Tunjangan untuk Lansia
Mulai tahun 2011, lansia yang terlantar di tanah air bakal menerima tunjangan sebesar Rp 300 ribu per bulan. Hal itu dikatakan, Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Departemen Sosial, Makmur Sunusi. Program yang bernama Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) ini, sebenarnya telah masuki tahun ke-5 sebagai proyek percontohan yang dilakukan di 28 provinsi dengan total lansia sebanyak 10 ribu jiwa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2008 menyebutkan populasi lanjut usia di Indonesia sebanyak 19,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 1,6 juta jiwa atau 8,2 persen yang lanjut usia telantar dan dalam kondisi miskin. Makmur mengatakan, pada 2011, program ini akan dijadikan program nasional serupa dengan bantuan langsung tunai (BLT). Hanya saja, di program ini, para lansia tidak perlu repot untuk mendatangi Kantor Pos. Petugas pos akan mengantarkan langsung bantuan ke rumah lansia yang tertera stiker khusus.
Penguatan Pendidikan Akhlak Mulia dan Karakter Bangsa
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh mengatakan, penguatan pendidikan akhlak mulia dan karakter bangsa. Menurut M Nuh, akan dicanangkan kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei mendatang. Diharapkan, pendidikan akhlak mulia dan karakter bangsa ini bisa menjadi gerakan nasional, yang tidak saja berkembang di sekolah, tetapi juga di masyarakat. Disinggung soal pemberian nilai untuk pendidikan akhlak mulia dan karakter bangsa, Mendiknas mengatakan, hal itu tidak akan ada nilainya. Namun, tindakan yang melawan pendidikan akhlak mulia dan karakter bangsa akan dikucilkan dari pergaulan di sekolah. Ditambahkan, pengembangan budaya sekolah bisa dimulai dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan santun, seperti mencium tangan guru saat datang ke sekolah atau berbicara santun terhadap guru dan orang yang lebih tua. Dari kebiasaan itu akan terbentuk tradisi, kemudian menjadi budaya sebagai pembentuk peradaban. Dikatakan, guru tidak cukup hanya mengajarkan, tetapi harus melakukan keteladanan. Jadi, guru harus memberikan keteladanan kepada anak didiknya selama berada di sekolah.
Jumlah Penyandang Buta aksara di Jaksel Masih Tinggi
Menurut data Sudin Pendidikan Menengah Jaksel, hingga akhir 2009 masih terdapat 9.321 warga Jaksel dari total jumlah penduduk 1.885.302 yang belum bisa baca tulis hitung (calistung). Jumlah penyandang buta aksara di Jakarta Selatan (Jaksel) masih tinggi. Belum wilayah lain. Di tengah kehidupan masyarakat kota yang maju, tentu angka buta aksara seperti ini sangat memprihatinkan. Hal itu dikatakan Kepala Seksi Pendidikan Formal dan Non Formal Sudin Dikmen Jaksel, Andi Aziz. Karena itu, untuk memerangi buta aksara ini, lanjut Andi, Pemkot Administrasi Jaksel terus berupaya mencari solusi, di antaranya memberdayakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Lembaga tersebut selama ini sudah memberikan kontribusi yang tinggi terhadap upaya pemberantasan buta aksara meski belum optimal. Ia mengatakan, di PKBM, selain baca tulis hitung, warga belajar juga diberikan berbagai pelatihan ketrampilan hidup (lifeskill) seperti ketrampilan bordir, menjahit, kursus kecantikan, dan memasak. Dengan demikian, lulus dari PKBM, warga belajar sudah bisa mandiri. Pihaknya tidak akan menyerah begitu saja dalam memerangi buta aksara di Jaksel. Targetnya tahun 2010.
|