|
[''Djakarta Pagi Ini'' Senin-Jum'at, 06.00-08.00 WIB & Sabtu, 06.00-09.00 WIB] Biasanya alasan untuk tidak memberikan empati kepada pengikutnya adalah:
- Merasa tidak ada waktu
- Merasa tidak relevan dengan tugas memimpin
- Takut terjebak dan kewalahan
- Kurang percaya diri
Tapi bukan berarti tak dapat diupayakan, karena hasilnya bisa mendapat keloyalan dan dedikasi tinggi dari anak buah . Apakah berarti kita harus berbaik hati ? Tidak selalu, karena baik hati bisa berarti mengiyakan banyak hal dengan menipisnya pertimbangan, jangan aduk antara simpati dan empati. Pahami aspirasi bawahan, berikan inspirasi dan harapan
Melalui kepemimpinan ,mendengar, melihat, dan pertanyaan, seorang pemimpin menentukan jenis pendekatan dan solusi yang paling sesuai. Dan ini merupakan kunci pemimpin yang berhasil menandakan di segala macam bidang.
kepemimpinan empathic tidak mudah. Terlihat tidak efisien, bukanlah proses cepat saji. Kepemimpinan ini membutuhkan waktu tambahan, bersama dengan kompetensi khusus dan komitmen. Apakah hal ini layak dilakukan? Dengan mempertimbangkan manfaat yang bisa diperoleh dalam memberikan jenis kepemimpinan yang dibutuhkan.
Dengan mempertimbangkan kinerja sub-optimal yang dapat diakibatkan dari melecehkan orang yang kita pimpin dengan pengawasan berlebih atau pengawasan terlalu sedikit maka jawabannya adalah ya. kepemimpinan yang efektif hanya dapat optimal ketika pemimpin mampu mengenali jenis kepemimpinan yang diperlukan dalam berbagai situasi dan menghadapi berbagai macam orang. Bagaimana ini tercapai? Jawabannya: melalui melihat, mendengar, dan mengajukan pertanyaan dengan empatik. Hasilnya: kepemimpinan empati.Inilah memimpin dengan hati. |