|
[''Haryono Show'' Rabu, 08.00-09.00 WIB] Dalam Haryono Show kali ini hadir Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) DR. Dewi Motik Pramono Msi serta Lenny Bunawan Ketua II Yayasan Santi Rama yang menaungi penyandang tuna rungu. DR. Rohadi Haryanto dari Yayasan Damandiri mengatakan, DNIKS berupaya menghimpun anggota Orsos ini agar terlibat aktif dalam kegiatan pemberdayaan bagi para penyandang cacat bersama para mitra yang mempunyai visi dan misi yang sama.
Kowani dengan Dewi Motik yang baru saja menjadi ketua Umumnya menggantikan Linda Agum Gumelar, merupakan Federasi dari Organisasi Kemasyarakatan Wanita Indonesia berlingkup Nasional yang keberadaannya dilatar belakangi oleh berbagai aspirasi dan sebagian besar bagian dari organisasi pemuda yang telah ada.
Kowani yang beranggotakan Anggota biasa yaitu Ormas wanita berlingkup nasional dan Organisasi wanita yang mempunyai nilai sejarah bagi Kowani serta Anggota Organisasi Internasional seperti ICW, ACWO (regional) serta mempunyai status special di ECOSOC (PBB) mempunyai tujuan mendayagunakan potensi wanita untuk menjadi wanita maju dan mandiri serta membangun masyarakat dengan kesejajaran wanitan dan pria.
Disamping aktif dalam bidang pemberdayaan disegala aspek mulai dari ekonomi, pendidikan,social, lingkungan sampai bidang politik, KOWANIPUN berperan aktif dalam pembinaan panti Wreda, PAUD, Penitipan anak dengan memberikan kegiatan pendidikan formal dan informal.
Dewi Motik mengatakan, saat ini sesungguhnya tak ada kata tak bisa untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Mulailah dari apa yang engkau suka, ujarnya. Jika suka berbicara jadilah PR atau menjajakan sesuatu tanpa harus bermodal uang semata , manfaatkan akses-akses yang ada, termasuk teknologi seperti online selling misalnya.
Dimana ada kemauan, disitu ada jalan, merupakan prinsip yang harus kita pengang.
Sementara itu Lenny yang banyak mengurusi Ketunarunguan mengatakan, kita haarus peka terhadap gejala-gejala kelainan yang dialami oleh anak. Pada usia tertentu anak mengalami perkembangan dan akan terlihat jika dia mengalami bisu tuli bawaan atau akibat sakit demam tinggi yang diderita sehingga membawa efek ketunarunguan.
Tingkatan tunarungu dihitung berdasarkan decibel. Dimana jika kurang dari 70 masih bisa mendengar ucapan orang lain, jika desibelnya antara 70-90 itu harus mendengar suarang orang keras-keras dan jika desibelnya 90 keatas tak dapat mendengar sama sekali.
Meskipun sekarang ini ada alat Bantu dengar namun berhubung mahalnya harga alat tersebut yang mencapai belasan juta rupiah tak banyak penyandang tuna rungu yang mampu. Keinginan dari Leni sebenarnya adalah bahwa penyandang tuna rungu ini tak hanya menjadi pekerja atau buruh namun bisa menjadi professional. Ini dapat terwujud jika dilakukan pendidikan sejak awal dan intensif.
Beberapa Murid keluaran Santi Rama ada yan berhasil lulus dari sekolah Design Grafis Luar Negeri dan menjadi pengacara. Jadi tak selamanya penyandang Tuna Rungu ini tak berdaya, orang tua dan masyarakatpun masih harus terus diedukasi agar menempatkan mereka sebagai bagian dari pemberdayaan intensif sehingga tidak bergantung pada orang lain. |