|
[''Posdaya Membangun Jakarta'' Senin - Jum'at, 10.00-11.00 WIB] Kesehatan Reproduksi Remaja menjadi tolak ukur kesehatan masyarakat Indonesia dimasa depan. Berkembangnya zaman, tipisnya batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan, dalam bidang pergaulan, pekerjaan atau di lingkungan sekolah sekalipun, mulai taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah menengah umum, atau juga selama kuliah di perguruan tinggi. Mereka bergaul dalam kurun waktu yang lama, penuh kebebasan dalam pergaulan dan kebebasan mengatur dirinya sendiri.
Selama masa pergaulan yang demikian panjang, anak-anak mengalami juga perubahan-perubahan, mulai dari lingkungan yang ada di sekelilingnya, atau di dalam diri dan tubuh mereka.
Menurut dr. Dewi dari Kantor KB Jakarta Pusat, remaja memiliki pemikiran dan aspirasi yang makin luas dengan segala implikasinya. Karena perubahan-perubahan itu sikap reproduksi dan hubungan mereka sebagai teman sebaya juga mengalami perubahan.
Persahabatan yang semula biasa-biasa saja diiringi dengan perkembangan sikap dan motivasi reproduksi dengan pengetahuan yang rendah, seakan diselimuti nilai cinta kasih yang berkobar, berbeda dibandingkan hubungan antar teman masa kanak-kanak.
Tentunya pertumbuhan dan perkembangan ini seharusnya diikuti dengan pemberdayaan yang lugas tentang reproduksi. Disayangkan, tabunya masalah seks dari kalangan orangtua terhadap anak, menyebabkan para remajaini belajar masalah reproduksi dari teman-temannya sendiri dengan tingkat akurasi yang rendah.
Dahulu kala, para remaja melahirkan dalam usia relative muda 13 tahun keatas namun terjadi pada lembaga perkawinan yang resmi, disaksikan oleh para orang tua dan lingkungannya dengan tidak berdaya. Sekarang ini kebanyakan jika terjadi kecelakaan seperti ini, akibat pergaulan bebas, sementara kebanyakan usia pernikahan anak-anak meningkat di kisaran 18 tahun keatas.
Masalah reproduksi adalah peristiwa yang kelihatannya sederhana tetapi sesungguhnya merupakan suatu peristiwa yang sangat rumit dan berbahaya. Dimana jika terlalu muda remaja melahirkan, resiko kematian ibu dan bayi menjadi tinggi dan kondisi reproduksipun bisa terganggu. Untuk itu penting untuk memberi pengetahuan yang seluas-luasnya kepada remaja melalui PIK KRR disekolah dimana para remajapun dapat menjadi konselor bagi teman sebayanya. |