|
[''Hidup Sehat'' Kamis, 08.00-09.00 WIB] dr. Zujirman dari Nusantara Medical Center (NMC) mengatakan, memang sulit untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis B hanya dari gejalanya, yang paling valid adalah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium.
Adapun beberapa gejala yang mungkin saja muncul seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin dan feses, mata dan warna kulit tampak menguning.
Seorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium. Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT). Berdasarkan pemeriksaan itulah dokter akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak.
Seseorang akan dinyatakan mengidap hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan. Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.
Pengobatan hepatitis B dapat berupa oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi. Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine. Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi. |