|
[''Parenting'' Sabtu, 09.00-11.00 WIB] Terkait pola pengasuhan pada anak, banyak orang tua yang menerapkan doktrin atau kekuasaan agar anak menuruti apa yang diinginkan orangtua. Forum Komunikasi Pembinaan dan Pengembangan Anak Indonesia (PKPPAI) bersama Uncle Yorupa hari ini membahas hal tersebut bersama seorang Ibu bernama Ida yang juga memiliki anak yang berprofesi sebagai penyanyi cilik bernama Nicky.
Menyangkut pola asuh menurut Ida, ada masyarakat yang meyakini bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk mengatur perilaku kelompok lain (yang inverior) karena merasa memiliki superioritas .
Sebagian besar kita para orang tua mewarisi pola Asuh yang kita dapatkan secara turun temurun dari orang tua kita.Mungkin yang terfikir adalah, dulu orang tua kita menggunakan pola Asuh koersif dan ternyata mereka berhasil menghantarkan kita seperti apa yang kita rasakan saat ini.
Namun pada saat kita mencoba menerapkan persis apa yang telah orang tua kita polakan kepada kita kenapa yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan ? Zaman berubah, terjadilah pergeseran nilai tatanan dalam masyarakat tempat anak-anak kita dibesarkan yang ternyata jauh berbeda dengan masyarakat tempat dahulu kita dan orang tua kita dibesarkan.
Dahulu masyarakat berada pada fase otokrasi sedang sekarang sudah cenderung kepada fase permisif, sehingga banyak orang tua dibuat tak berdaya oleh anak-anak mereka yang beberapa tahun lalu masih nunut saja dengan keinginan mereka, sekarang ini sudah mahir untuk membrontak.
Ada Pola Asuh yang bersifat koersif dimana cuma mengenal Hukuman dan Pujian dalam berinteraksi dengan anak. Dimana anak dipuji jika melakukan sesuai keinginan orang tua dan langsung dihukum jika melanggarnya, sehingga anak berkecenderungan memiliki perilaku cari-cari perhatian, unjuk kekuasaan , balas dendam atau malah menarik diri.
Adapula pola asuh permisif : bebas tanpa ketertiban.
Pola asuh ini muncul karena adanya kesenjangan atas pola asuh. Orang tua merasa bahwa pola asuh koersif tidak sesuai dengan kebutuhan fitrah manusia, sebagai pengambil keputusan yang aktif, penuh arti dan berorientasi pada tujuan dan memiliki derajat kebebasan untuk menentukan perilakunya sendiri.
Namun disisi lain orang tua tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan terhadap anak-anak mereka, sehingga mereka menyerahkan begitu saja pengasuhan anak-anak mereka kepada masyarakat dan media masa yang ada.
Akibatnya anak akan terjebak kepada gaya hidup yang serba boleh persis tepat dan sesuai dengan pola yang berlaku pada masyarakat tempat dia dibesarkan saat ini. Di satu sisi orang tua akan selalu menanggung semua akibat perilaku anaknya tanpa mereka sendiri menyadari hal ini.
Sementara orang tua yang menerapkan pola asuh Dialogis akan bersikap : tertib dengan kebebasan. Pola Asuh ini datang sebagai jawaban atas ketiadaannya pola asuh yang sesuai dengan fitrah penciptaan manusia . Ada konsekwensi yang diakibatkan dari perilaku mereka.
Dalam memperbaiki kesalahan ,anak orang tua menyadari bahwa kesalah itu muncul karena mereka belum trampil dalam melakukan kebaikan, sehingga mereka akan mencoba untuk membangun ketrampilan tersebut dengan berpijak kepada kelebihan yang anak miliki, lalu mencoba untuk memperkecil hambatan yang mebuat anak berkecil hati untuk memulai kegiatan yang akan menghantarkan mereka kepada kebaikan tersebut.
Lalu juga orang tua akan berusaha menerima keadaan anak apa adanya tanpa membanding-bandingkan mereka dengan orang lain,saudara kandung atau teman bermainnya. Tentunya yang menjadi pertimbangkan kita dalam menerapkan pola asuh pada anak harus lebih menekankan pada kepentingan anak dan aspek tumbuh kembangnya kedepan. |