|
[''Parenting'' Sabtu, 09.00-11.00 WIB] Mengajarkan puasa kepada anak harus secara bertahap. Hal ini dinyatakan oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ir. Yani Satriyandayaningrum. Pada anak latihan harus diberikan secara bertahap. Dimulai pada waktu sahur hingga Zuhur lalu berbuka dan melanjutkan puasa kembali hingga Magrib misalnya, karena menurut Yani sapaan akrab wanita ini, proses pembelajaran bagi anak tak boleh dipaksakan, kalau anak bisa menjalankan dengan senang tanpa ada tekanan tentunya anak akan mau dengan sendirinya melakukan puasa.
Kita selaku orangtua bisa memberikan informasi mengenai manfaat dan pengertian puasa sejak jauh hari sebelumnya, Ujarnya.
Kita bisa memilih kata-kata positif, tidak menyuruh, tidak membentak dan jangan membuat anak terpaksa melakukannya.
Bisa juga kita memberi reward dengan memberikan hadiah jika anak dapat menyelesaikan puasanya dengan baik. Rangsangan ini tak akan membuat anak materialistis. Seiring berjalannya waktu dan pemahaman yang diberikan orang tua, anak akan tahu bahwa meski tanpa hadiahpun puasa wajib dijalankan.
Menjadi kebanggaan tersendiri pula pada diri sang anak jika bisa mendapatkan sesuatu dari hasil jerih payahnya dan bisa dibanggakan kepada teman-temannya di sekolah.
Anak mulai bisa diajarkan puasa setengah hari pada usia balita sementara full sehari penuh saat berusia 11-12 tahun, karena jika dilihat dari segi fisik dan perkembangannya anak sudah cukup kuat untuk melakukannya meski emosinya masih belum stabil.
Jika anak sudah terbiasa untuk melakukan puasa sejak dini, maka kebiasaan ini akan terbawa terus hingga anak menjadi remaja. Dan jika sudah tiba saatnya anak wajib melakukan puasa, orang tua tidak akan mengalami kesulitan lagi untuk membimbingnya.
Hendaknya jika anak sudah menginginkan melakukan puasa, malam sebelumnya orang tua harus memberitahu bahwa anak harus bangun lebih awal untuk melakukan sahur bersama-sama sehingga anak lebih nafsu untuk makan.
Pada intinya makna dari puasa kenapa itu diperintahkan oleh Allah SWT perlu terus ditanamkan kepada anak-anak dan digambarkan pula masih begitu banyak anak lain di luar sana yang keadaan ekonomi orangtuanya tidak sebaik kita, merekapun sering berpuasa bukan karena keinginan semata namun karena tak ada yang bisa untuk dimakan. |