|
[''Posdaya Membangun Jakarta'' Senin - Jum'at, 10.00-11.00 WIB] Kembali kita sampai pada Idul Fitri 1430 H yang menurut Hj. Khofifah Indar Parawansa memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Ketika kita lahir kedunia ini, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak dalam pandangan Islam, diibaratkan secarik kertas putih. Orang tuanyalah yang akan mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. Pada kenyataannya, perjalanan hidup manusia tidak luput dari dosa. Perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri.
Dalam Idul fitri kita akan bersilaturahmi dengan anggota keluarga dan saling memaafkan, tentunya dosa kita kepada Allah akan diampuni jika kita bertobat , dan Allah baru mengampuni dosa kita kepada manusia setelah kita ikhlas dan meminta maaf kepada yang bersangkutan. Idul fitri identik dengan Halal bihalal, menurut Khofifah budaya ini lebih populer di Indonesia dan menjadi tradisi pula di negara-negara rumpun Melayu.
Ini merupakan refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang. Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran.
Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang telah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman. |