|
[''Djakarta Malam'' Senin-Jum'at, 19.00-20.00 WIB ] Salah satu kesalahan tindakan seseorang dalam menghadapi kesulitan adalah mengasihani diri sendiri. Mengasihani diri sendiri (self-pity) adalah menerima kelemahan atau kegagalan diri kita dan memanfaatkannya untuk mendapatkan belas kasihan dari orang lain.
Banyak orang yang sangat pandai mencari beribu alasan untuk membenarkan tindakannya dalam mengasihani diri sendiri. Tentu saja setiap alasan yang ada menjadikan dirinya sebagai korban tapi tidak pernah membuatnya akan menjadi pemenang.
Sebuah kisah yang selayaknya menjadi inspirasi kita adalah mengenai Victor Frankl, seorang dokter muda yang baru menikah di Viena. Ia beserta isterinya, Kedua ortunya, istrinya, saudara lakinya ditangkap oleh tentara Nazi pada tahun 1942. Satu persatu keluarganya meninggal di kamp Nazi. Ketika dipenjara, tentara Jerman mengatur waktu makan, tidur, tempat penjaranya dan apa yang harus dimakan.
Namun Victor Frankl bertekad walaupun Tentara jerman boleh mengontrol, menguasai (bahkan membunuh) hidupnya, tetapi tentara Jerman TIDAK DAPAT MENGONTROL SIKAPNYA TERHADAP SITUASI ITU. Dirinya sendirilah yang menguasai dan mengontrol sikapnya. Ia memilih sikapnya! Ia memilih tidak terluka ditengah-tengah kesedihan yang menghantam hidupnya! Dia tetap memilih bersuka cita dan sikap inilah yang membuat ia bertahan!
Victor Frankl berpikir bahwa tentara Nazi boleh mengatur dan merampas apa saja yang dia milki, tapi ada satu hal yang tidak akan pernah bisa diambil, dirampas atau dikuasai oleh tentara nazi yaitu sikap hatinya dalam menghadapi perlakuan keji tentara Nazi.
Victor memilih untuk tetap bersuka cita dan akhirnya keputusan inilah yang membawanya tetap survive. Dalam menjalani hidup kita tidak dapat memilih apa yang akan terjadi tapi kita bisa memilih bagaimana kita bereaksi menghadapi permasalahan yang ada.
Belajar dari Victor Frankl, kita dapat membekali diri kita untuk tetap survive disaat mengalami kesulitan dalam hidup dengan cara:
Mencari kebaikan dibalik segala sesuatu
Tetap tersenyum pada kesulitan
Tidak menyerah pada ke-putusasaan.
Tidak membiarkan emosi mendikte akal sehat.
Meluangkan waktu setiap hari untuk bernyanyi dan tertawa.
Demikian juga dalan kehidupan berkeluarga, ada hal hal yang dapat kita lakukan untuk bertahan dan menang yaitu:
Tetap positip, bahkan ketika keadaan atau situasi keluarga tidak ideal, tidak berjalan sesuai dengan rencana.
Tetap tersenyum dan berbicara lembut kepada keluarga, sekalipun, mereka tidak melakukan apa yang kita harapkan
Menemukan solusi positip untuk setiap masalah.
Saling memuji, saling mendukung, bukan saling menyalahkan
Saling menyapa dengan ceria dan ramah
Menjaga suasana rumah tetap ceria & cerah. Isilah dengan musik atau sesuatu yang ceria.
Sungguh suatu hal yang berharga memiliki keluarga yang bahagia. Berbagai manfaat akan kita rasakan dengan memiliki sikap suka cita. Sukacita adalah sikap yang dapat kita lakukan dalam menghadapi sikap mengasihani diri sendiri. Sukacita (Joyfulness), yang artinya adalah tetap bersikap baik dan berpengharapan sekalipun kondisi tidak menyenangkan.
Terdapat berbagai manfaat SUKACITA
Kekuatan
Ada satu energi positip yang terpancar dari orang yang penuh sukacita. Kekuatan ini tidak hanya bermanfaat bagi kehidupannya, tapi juga bagi orang-orang disekitarnya.
Kesehatan
Penelitian medis menegaskan, bahwa senyum yang penuh sukacita benar-benar memperkuat sistem kekebalan yang melawan penyakit di dalam tubuh.Tercatat berbagai peribahasa yang meyakini begitu besarnya manfaat suka cita dan gembira. Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.
Gumbira teh matak sehat. Nguluwut bae mah matak gering nangtung. Ati sing seneng kuwi obat sing mujarab, nanging ati semplah presasat pati sing tekanι alon-alon. Jadi mari hadapi apa saja yang ditawarkan oleh Sang hidup dengan suka cita.
|